Menghargai Ciptaan: Mengapa Diskriminasi adalah Perlawanan terhadap Tuhan

Dunia ini diciptakan sebagai sebuah mosaik besar yang terdiri dari berbagai warna, bentuk, dan latar belakang. Dalam perspektif egaliter, setiap manusia lahir dengan martabat yang setara, tanpa terkecuali. Namun, tantangan terbesar kemanusiaan sering kali muncul dari ketidakmampuan kita untuk menerima perbedaan fisik—seperti warna kulit atau kondisi tubuh—sebagai sebuah anugerah, melainkan menjadikannya alasan untuk menghina, mengucilkan, atau mendzalimi.

Keberagaman sebagai Ketetapan Ilahi

Warna kulit yang melintasi spektrum dari gelap ke terang, serta kondisi fisik yang beragam, bukanlah sebuah kesalahan desain atau kebetulan semata. Bagi mereka yang percaya, setiap helai rambut dan warna pigmen adalah kehendak Tuhan. Menganggap satu etnis lebih mulia dari etnis lain, atau merasa lebih sempurna dibandingkan mereka yang menyandang disabilitas, merupakan sebuah kesombongan intelektual dan spiritual yang fatal.

Ketika kita menghina seseorang karena warna kulitnya atau mencemooh keterbatasan fisiknya, kita sebenarnya sedang melayangkan kritik kepada Sang Pencipta. Menganggap ciptaan-Nya "kurang" atau "buruk" secara tidak langsung adalah bentuk perlawanan terhadap ketetapan Tuhan.

Bahaya Eksklusi dan Kebencian

Membenci atau mendzalimi sesama manusia berdasarkan atribut fisik yang tidak bisa mereka pilih adalah bentuk ketidakadilan yang paling murni. Tindakan ini memberikan dampak yang merusak:

  • Secara Sosial: Menciptakan sekat-sekat kebencian yang menghambat kemajuan bangsa.

  • Secara Psikologis: Meruntuhkan martabat dan semangat hidup individu yang seharusnya dirangkul.

  • Secara Spiritual: Menjauhkan diri dari nilai kasih sayang yang menjadi inti dari setiap ajaran moral.

Inklusivitas berarti membuka ruang bagi semua orang untuk berkontribusi tanpa rasa takut akan penghakiman. Sebuah masyarakat yang inklusif memandang manusia dari integritas, karakter, dan amal baktinya, bukan dari kemasan luarnya.

Membangun Dunia yang Egaliter

Menjadi manusia yang egaliter berarti sadar sepenuhnya bahwa tidak ada seorang pun yang bisa memilih di keluarga mana ia lahir, apa warna kulitnya, atau bagaimana kondisi fisiknya saat tumbuh dewasa. Karena hal-hal tersebut berada di luar kendali manusia, maka sangat tidak logis dan tidak etis menjadikannya dasar untuk melakukan penindasan.

Kita perlu menggeser paradigma dari "mentoleransi perbedaan" menjadi "merayakan perbedaan". Penghormatan terhadap penyandang disabilitas dan keberagaman etnis adalah bukti nyata dari ketaatan kita kepada nilai-nilai kemanusiaan yang luhur.

Kesimpulan

Semua manusia berdiri di atas tanah yang sama dan di bawah langit yang sama. Menghina warna kulit dan fisik manusia lain adalah bentuk pengkhianatan terhadap prinsip kesetaraan dan penghinaan terhadap karya Tuhan. Mari kita berhenti membangun dinding dan mulai membangun jembatan, karena pada akhirnya, yang membedakan kita di hadapan Sang Pencipta hanyalah kebaikan hati dan ketulusan niat kita.

Generate by GEMINI
https://gemini.google.com/ 

Post a Comment for "Menghargai Ciptaan: Mengapa Diskriminasi adalah Perlawanan terhadap Tuhan"