Hidup Berdampingan Tak Perlu Fanatisme Ras dan Suku
Manusia diciptakan untuk hidup berdampingan. Sejak awal keberadaannya, manusia tidak pernah hidup sendirian, melainkan tumbuh dalam kebersamaan, perbedaan, dan saling ketergantungan. Namun dalam perjalanan sejarah, perbedaan yang seharusnya menjadi kekayaan justru sering berubah menjadi alasan untuk saling menyingkirkan, bahkan saling melukai. Fanatisme ras dan suku menjadi tembok yang memisahkan sesama manusia.Padahal, suku dan ras bukanlah hasil pilihan manusia. Tidak ada seorang pun yang merencanakan untuk lahir sebagai suku tertentu, berkulit putih, hitam, sawo matang, atau berambut lurus maupun keriting. Semua manusia dilahirkan tanpa formulir pilihan. Suku, ras, dan warna kulit adalah takdir Tuhan—sebuah kehendak ilahi yang tidak dapat ditawar, apalagi dijadikan alasan untuk merasa lebih unggul dari yang lain.
Ketika seseorang membanggakan sukunya sambil merendahkan suku lain, sejatinya ia sedang mempersoalkan keputusan Tuhan. Fanatisme yang sempit mengubah identitas menjadi senjata, bukan sebagai penanda budaya yang layak dihormati. Padahal setiap suku dan ras membawa nilai, kearifan, dan sejarah yang sama berharganya. Tidak ada yang lebih manusia dari yang lain.
Hidup berdampingan tidak menuntut keseragaman, tetapi menuntut kesadaran. Kesadaran bahwa di balik perbedaan bahasa, adat, dan warna kulit, ada hakikat yang sama: kita semua manusia. Kita sama-sama merasakan lapar, sakit, cinta, kehilangan, dan harapan. Penderitaan tidak memilih ras, dan kebahagiaan tidak bertanya suku.
Kemanusiaan seharusnya berdiri lebih tinggi daripada identitas kesukuan. Suku adalah warisan, bukan senjata. Ras adalah ciri, bukan ukuran moral. Yang membedakan manusia bukanlah dari mana ia berasal, melainkan bagaimana ia memperlakukan sesamanya. Nilai manusia terletak pada akhlak, empati, dan kemampuannya menghormati kehidupan orang lain.
Dengan menyadari bahwa semua perbedaan adalah kehendak Tuhan, manusia diajak untuk rendah hati. Perbedaan bukan ancaman, melainkan undangan untuk saling mengenal. Dalam hidup berdampingan, yang dibutuhkan bukan fanatisme, tetapi kemanusiaan. Sebab pada akhirnya, sebelum menjadi bagian dari suku atau ras apa pun, kita semua adalah manusia—ciptaan Tuhan yang setara dalam martabat dan hak untuk hidup dengan damai.
Bila anda setuju dan suka, silahkan share. Terima kasih.
Post a Comment for "Hidup Berdampingan Tak Perlu Fanatisme Ras dan Suku"